oleh

Melebung di Danau Kajang, Tradisi Tahunan Masyarakat Desa Mendala.

-Berita, OKU-173 Dilihat

 

OKU – Salamrakyat.
Disaat musim kemarau berlangsung, air sungai biasanya menyusut dan mendangkal, ini merupakan faktor alam karena kapasitas air yang berasal dari mata air di hulu sungai juga berkurang.
Begitu juga tempat- tempat aliran air lainnya seperti irigasi dan danau- danau.

Di desa Mendala kecamatan Peninjauan ada sebuah danau yang cukup besar dengan luas lebih kurang 2 Ha, masyarakat desa Mendala memberi nama danau Kajang.

Sebelum musim kemarau permukaan air di danau tersebut di penuhi oleh tanaman rumput secara keseluruhan yang menyebabkan air danau tidak kelihatan. Ternyata air danau Kajang berasal dari aliran sungai ogan, jika musim banjir air sungai akan pasang naik sampai memenuhi danau Kajang. Karena itu jika di musim kemarau air danau Kajang akan menyurut namun menyimpan harta kekayaan berbentuk ikan yang berasal dari sungai Ogan.

BACA JUGA =  Hadiri Konferensi Cabang Muslimat NU Kab. OKU, Drs. Lamazi, AS di Sambut Hangat Ibu-ibu Jemaah.

Ada tradisi masyarakat desa Mendala di waktu musim kemarau tiba, masyarakat desa Mendala dan desa sekitarnya mencari ikan di lokasi danau Kajang dengan istilah Melebung yaitu tradisi menangkap ikan bersama-sama.

Kades Mendala (Herwanizar) saat di temui di lokasi danau menjelaskan Tradisi melebung ini dilakukan dengan menggunakan alat untuk menangkap ikan seadanya. Tidak boleh menggunakan alat sentrum dan Tuba. Sebelum di lakukan kegiatan ini pihak desa biasanya mentenderkan /melelangkan terlebih dahulu kepada masyarakat yang mau mengelola kegiatan melebung tersebut karena danau Kajang adalah statusnya milik desa bukan milik perorangan.

Setelah ada pemenang lelang papar Kades Mendala, baru pihak pemenang lelang menawarkan kepada masyarakat yang mau menangkap ikan (melebung) di pungut biaya 20 rb / org sekali turun untuk satu hari. Sementara melebung ini dapat mencapai satu bulanan lamanya ( selama 30 hari). Jenis Ikan yang di dapat rata- rata jenis ikan sungai selain ikan sepat, betok dan gabus yang merupakan ikan rawa-rawa.

BACA JUGA =  HD Terima Penghargaan Atas Tindak Lanjut Hasil Pengawasan Inspektorat Jenderal Kemendagri Tepat Waktu

Hari ini adalah hari ketiga melebung setelah hari pertama ada ratusan orang yang berasal dari beberapa desa di sekitar desa Mendala ikut menangkap ikan di danau Kajang. Di tahun ini kata Herwanizar berbeda dengan tahun sebelumnya, untuk melebung tidak di lelangkan namun dikelola langsung oleh desa. Masyarakat yang ingin melebung langsung mendaftar ke desa yang telah menunjuk panitia pelaksana. Ada berapa orang yang mendaftar kemudian hasil bayaran warga yang di kumpulkan, 70% di sumbangkan ke- Masjid dan 30%nya diberikan sebagai upah kerja panitia pengelolan. Ini kata Herwanizar sudah merupakan kesepatan bersama antara pemerintah desa dan masyarakat Mendala.

Di hari pertama di saat memulai melebung diadakan acara resmi secara simbolis di buka oleh camat Peninjauan Nazarudin, di hadiri juga oleh Kapolsek Peninjauan Dulhamid dan masyarakat, papar Kades Mendala

BACA JUGA =  Gubernur HD Nyatakan Jalan Indralaya Bebas Macet

Kombes Pol. Drs. Lamazi, AS selaku putra daerah Mendala, sangat perhatian terhadap danau Kajang ini. Terbukti sebelumnya, Lamazi beserta rombongan sempat bergotong royong bahkan sampai mengeluarkan dana pribadi untuk membersihkan rerumputan yang tumbuh memenuhi permukaan air danau Kajang.
Kegiatan yang sudah menjadi tradisi ini perlu di jaga dan di lestarikan kata Lamazi, namun di sisi lain alangkah baiknya jika lokasi danau kajang ini dapat juga di manfaatkan untuk tempat wisata. Lokasinya luas dan stategis terletak di pinggir jalan poros desa Mendala, jika nantinya di buat bangunan untuk wisata maka akan dapat menjadi salah satu wisata yang bisa di minati oleh masyarakat, tutupnya. (Pratama Dedy)

Print Friendly, PDF & Email

Komentar