Apakah Kontrasepsi Oral Dapat Menyebabkan Diabetes?

Uncategorized625 Dilihat

Sampai sekarang, masih terdapat berbagai pasangan suami istri, lebih-lebih kaum perempuan, yang memakai pil kontrasepsi guna mencegah kehamilan. Apakah Anda tahu kalau pil tersebut tak cuma berguna sebagai alat pencegah hamil? Beberapa fungsi lain dari penggunaannya adalah membantu meredam rasa sakit selama haid, menyembuhkan ketidaknyamanan akibat endometriosis, menurunkan peluang timbulnya kanker ovarium, dan juga bisa digunakan untuk menjaga kondisi kulit wajah agar tetap baik.

Menggunakan pil KB tentu ada efek samping yang dirasakan seperti haid menjadi tidak teratur, berat badan meningkat, nyeri payudara. Namun, pernahkah kamu mendengar seseorang terkena diabetes akibat dari penggunaan pil kontrasepsi? Salah satu risiko paling besar dari penggunaan pil KB adalah meningkatnya kadar gula darah yang dikhawatirkan bisa memicu diabetes. Benarkah demikian? Berikut penjelasannya!

1. Dampak negatif dari pemakaian pil KB

Obat kontrasepsi atau sering dikenal sebagai pil KB merupakan metode pencegahan kehamilan berbasis hormon yang telah banyak dipakai oleh pasangan perkawinan terutama bagi kaum hawa. Obat ini memiliki senyawa estrogen atau progestin yang bisa mencegah pelepasan sel telur serta memodifikasi lendir rahim untuk membuat sperma kesulitan mencapai sel telur.

Biasanya, perempuan memakai pil kontrasepsi untuk menhindari kehamilan, namun ada juga yang menggunakannya dengan tujuan selain pencegahan kehamilan. Selain sebagai metode kontrasepsi, pil ini memiliki beberapa fungsi lain seperti meredakan rasa sakit saat haid, menyembuhkan siklus menstruasi yang tak teratur, mengurangi gejala endometriosis, serta membantu dalam pengobatan mioma.

BACA JUGA =  No Rumah Saya: Menemukan Tempat Tinggal yang Nyaman

Ada dua tipe pil kb dengan dampak samping yang beragam, yakni pil kombinasi dan pil progestogen atau sering disebut juga sebagai pil mini. Pil kombinasi ini memiliki zat aktif dalam bentuk hormon estrogen dan progestogen. Cara kerjanya meliputi pencegahan ovulasi, penghambatan penempelan embrio di dinding rahim, serta memperkental cairan lendir leher Rahim sehingga sperma sulit menembusnya. Di lain pihak, pil progestogen atau biasa diketahui sebagai pil mini ialah metode kontrasepsi peroral yang hanya menggunakan satu macam hormon yaitu progesrogen.

Beberapa dampak negatif menggunakan pil kombinasi serta progesteron meliputi siklus menstruasi tak teratur (periode haid menjadi lebih singkat atau malahan tidak ada haid sama sekali), migrain, vertigo, rasa mual, sensasi nyeri pada payudara, peningkatan signifikan dalam berat badan, naiknya tekanan darah, kurang perlindungan terhadap penyakit menular secara seksual, dan risiko tinggi mengidap kehamilan ektop.

2. Kaitan Antara Obat dan Diabetes

Diabetes adalah suatu keadaan di mana kadar glukosa dalam darah seseorang terlalu tinggi atau bahkan mencapai lebih dari 240 mg/dL yang bisa mengakibatkan berbagai kompilkasi kesehatan. Ada beberapa ragam penyakit ini termasuk diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, diabetes gestasional serta diabetes sekunder.

Diabetes bukan saja disebabkan oleh gaya hidup tak sehat, ada pemicu lain yang ikut berperan dalam tingkat gula darah seseorang seperti riwayat keluarga dan kelebihan bobot badan.
metabolic syndrome
, usia, riwayat diabetes pada kehamilan, infeksi, stress, dan pemakaian obat-obatan tertentu.

BACA JUGA =  Video Viral: Dilempar-lemparkan Bayi, Pengaruhi Kesehatannya?

Beberapa jenis obat ternyata bisa membuat tingkat gula dalam darah naik. Apabila seseorang pernah mengalami masalah dengan diabetes, sebaiknya berkonsultasilah ke dokter tentang obat apa saja yang aman diminum bagi mereka yang menderita diabetes. Jenis-jenis obat yang berpotensi meningkatkan level gula darah meliputi obat penanganan tekanan darah tinggi, obat untuk meredakan kolesterol tinggi, serta tablet pengendali kelahiran.

Menurut sebuah studi dengan judul “Analisis Faktor Risiko Lama Pemakaian dan Umur Penggunaan Kontrasepsi Oral Terhadap Kejadian Diabetes Melitus di Puskesmas Permunas II Pontianak,” disebutkan bahwa pil KB menempati posisi kedua sebagai metode kontrasepsi paling banyak digunakan setelah injeksi KB. Meskipun demikian, menggunakan pil KB juga dapat menyebabkan beberapa efek samping tambahan selain yang telah dibahas sebelumnya, yakni kenaikan tingkat gula darah. Ini bisa menjadi risiko bagi mereka yang memiliki anggota keluarga dengan penyakit diabetes mellitus, riwayat diabetes gestasional, atau mengalami kelebihan berat badan. Disimpulkan bahwa baik umur maupun durasi pemakaian kontracepsi hormon ikut memengaruhi level glukosa dalam tubuh.

Telah diketahui dengan pasti bahwa obat kontrasepsi oral mengandung hormon estrogen dan progestin, yang bisa memengaruhi sistem tubuh dalam mengatur glukosa. Ini berarti kedua hormon itu memiliki potensi untuk meningkatkan resistansi terhadap insulin, sehingga membuat tubuh kesulitan menjaga tingkat gula darah tetap stabil.

3. Pengobatan diabetes

Orang yang telah didiagnosis dengan diabetes oleh dokter perlu sangat berhati-hati dalam mengatur pola makan serta cara hidupnya supaya kondisi penyakitnya tak bertambah parah. Meskipun pengobatan medis umumnya cukup berhasil, masih terdapat beberapa dampak negatif yang dapat dialami pasien tersebut.

BACA JUGA =  Rumah Paling Mewah di Dunia: Keindahan Tak Tergantikan dari Kehidupan Jet Set

Pada diabetes melitus terdapat obat-obatan yang biasanya akan diberikan, yaitu derivat sulfonilurea dan derivat biguanida. Derivat sulfonilurea merupakan obat yang dianjurkan untuk penderita diabetes melitus tipe 2 yang juga terkena stroke. Kedua obat tersebut harus digunakan di bawah pengawasan dokter.

Selain pemberian obat-obatan, terapi insulin juga biasanya dilakukan pada penderita diabetes melitus tipe 1. Beberapa jenis insulin yang dapat digunakan pada terapi ini adalah hormon insulin manusia, hormon insulin sapi, dan hormon insulin babi. Perlu diketahui bahwa hormon insulin sapi dan hormon insulin babi memiliki struktur yang sama dengan manusia. Manfaat dari terapi insulin seperti memperbaiki status metabolik dengan cepat dan meningkatkan tingkat kehidupan pada penderita diabetes.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa penggunaan pil kontrasepsi terutama pil KB dapat memicu risiko diabetes. Terlebih lagi, jika seseorang menggunakannya dalam jangka yang lama dan memiliki keluarganya memiliki riwayat diabetes. Kandungan hormon estrogen dan progestin yang dapat mempengaruhi tubuh untuk mengontrol glukosa. Walau begitu, namun untuk menjaga kesehatan tubuh sebaiknya konsultasikan kepada dokter jika ada keluhan lain dan memiliki riwayat diabetes.

Komentar