Pasca IPO, Cipta Sarana Medika (DKHH) Bertekad Tingkatkan Layanan Kesehatan di Jawa Barat

Uncategorized523 Dilihat


SalamRakyat.com.CO.ID – JAKARTA.

Sektor kesehatan mendapatkan penambahan anggota baru di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada hari Kamis (8/5), PT Cipta Sarana Medika (DKHH) secara resmi bergabung sebagai emiten nomor 14 pada tahun ini dengan pencatatan perdana sahamnya menggunakan prosedur tersebut.
Initial Public Offering
(IPO).

DKHH didirikan pada tanggal 17 September 2014 dan bertindak sebagai sebuah perusahaan dalam sektor layanan rumah sakit swasta. Perusahaannya menekankan dirinya untuk memberikan layanan kesehatan di daerah-daerah pedesaan di seluruh Indonesia.

Direktur Utama DKHH Satria Muhammad Wilis mengatakan bahwa perusahaan tersebut merupakan wujud dari kesedihan dan peduliannya kepada masyarakat yang ditinggalkan oleh Karlinah Djajaatmadja, istrinya Umar Wirahadikusumah, sang Wakil Presiden RI ke-4, yang juga merupakan kakek nenek moyang belakangan ini.

DKHH mengurus sebuah rumah sakit jenis C yang akan didirikan di beberapa lokasi penting yaitu Kedungwaringin, Sukatani, dan Cibadak. Berdasarkan prospektus dari penawaran umum saham perdana mereka, sampai saat ini aktivitas bisnis yang sudah dilaksanakan oleh perusahaan tersebut mencakup Rumah Sakit DKH Cibadak.

Di samping itu, DKHH mempunyai dua anak usaha, yaitu PT As-Shofwan Tunggal Mandiri dan PT Mutiara Persada Abadi. Ketiga entitas ini menjalankan fasilitas kesehatan swasta bertaraf D yang terletak di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

BACA JUGA =  AKP Indera Wilis Mewakili Kapolres OKU Polda Sumsel Hadiri Acara Wisuda TK/TPA/TPQ Dan Tahfizh Juz 30 LPPTKA BKPRMI OKU 2022

Sampai saat ini, DKHH didirikan di bawah payung PT Siliwangi Djajakusumah Hospitals yang menjadi pemegang saham mayoritasnya.

Tentu saja, sebelum melakukan penawaran umum perdana (IPO), PT Siliwangi Djajakusumah Hospitals adalah pemegang mayoritas saham di DKHH dengan nilaiRp 99,99 miliar yang setara dengan seluruh kepemilikan. Sedangkan saham senilai Rp 1 juta dimiliki oleh Iqbal Rahim Wilis, yaitu menantu dari keluarga Umar Wirahadikusumah.

Setelah melaksanakan Initial Public Offering (IPO), kepemilikan PT Siliwangi Djajakusumah Hospitals menurun menjadi 79,22%. Ini mengindikasikan bahwa perusahaan tetap memegang kendali mayoritas, sedangkan masyarakat atau para investor umum memiliki bagian kepemilikan sebesar 20,78%.

Dengan pelaksanaan IPO ini, Satria mengatakan bahwa perusahaan akan merevitalisasi sarana kesehatannya serta memulai pembangunan.
Center of Excellence
yang akan memimpin di wilayah Cibadak.

Selain itu, langkah IPO juga diambil untuk menerapkan manajemen korporat yang lebih efektif.



Sebagai sebuah perusahaan terbuka, kami menjadi fokus para pengawas. Ada banyak regulasi yang wajib kita patuhi. Kami berharap budaya ketertiban bisa tersebar ke semua departemen rumah sakit dan tetap bertahan hingga lima puluh tahun mendatang,” jelas Satria saat dijumpai SalamRakyat.com di Bursa Efek Indonesia pada hari Kamis, tanggal 8 Mei.

BACA JUGA =  Rumah Com - Portal Properti Terpercaya di Indonesia


Pengembangan Rumah Sakit Klaster

Direktur Cipta Sarana Medika Octen Suhadi mengungkapkan detail tambahan terkait ekspansi usaha perusahaan tersebut. Menurutnya, perusahaan akan menerapkan konsep

clustering


.

“Maksudnya, pada satu
region
“Kita akan mengelola tiga rumah sakit,” ujar Octen di waktu yang bersamaan.

Maka, untuk tahap awalnya, DKHH berencana mendirikan rumah sakit baru di Bogor dan Ciawi guna mengembangkan Rumah Sakit DKH Cibadak yang telah ada. Menurut Octen, ide tersebut diterapkan demi meningkatkan efisiensi dalam manajemen operasional dan kondisi finansial perusahaan.

Menurutnya, pelaksanaan pengembangan tersebut akan dimuali tahun ini. “Direncanakan masih ada satu rumah sakit lagi pada tahun ini,” ujar Octen.

Namun, terkait dengan pembangunan rumah sakit yang akan datang tersebut, Octen menyatakan bahwa perusahaan tidak bergantung pada dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO), tetapi lebih kepada dana pengembangan dari sumber lainnya.

Pada saat ini, Rumah Sakit DKH Cibadak sudah mempunyai sebanyak 387 tempat tidur. Menggunakan dananya dari IPO, perusahaan berencana untuk menambah jumlah tersebut menjadi 25 tempat tidur lebih banyak lagi.

BACA JUGA =  Dak Rumah Minimalis - Solusi Hunian Modern dan Efisien

Tentu saja, Satria menyebutkan pula bahwa salah satu sebab melakukan IPO adalah karena tingginya occupancy rate untuk tempat tidur alias

effective bed occupancy rate


Rumah sakit yang kapasitasnya telah mencapai lebih dari 90%.

Selain itu, perusahaan hanya melakukan renovasi beberapa ruangan di rumah sakit pada awal tahun ini. Menurut Octen, tindakan tersebut dilakukan untuk memenuhi standar kelas perawatan inap (KRIS) seperti yang ditetapkan dalam Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2024.

“Diharapkannya pada tanggal 15 Mei, proses renovasi akan terselesaikan, jumlah pasien bertambah, serta telah memenuhi standar yang ditetapkan oleh BPJS,” tambah Octen.

Sebagai perusahaan tercatat baru saja mendapatkan statusnya, DKHH mengatur sasaran kinerja yang semakin ambisius. Menurut Octen, perusahaan tersebut bertujuan untuk mencetak pendapatan senilai Rp 165 miliar serta keuntungan bersih sejumlah Rp 8,2 miliar di tahun 2025 ini.

Perlu dicatat bahwa pada tahun lalu, DKHH mencatatkan pendapatan senilai Rp 126,03 miliar dengan laba bersih sebesar Rp 1,27 miliar. Oleh karena itu, perusahaan menargetkan pertumbuhan pendapatan sampai 30,92% serta peningkatan laba hingga 545,66% di tahun ini.

Komentar